World Through my Words

Sunday, February 17, 2013

Sister's Story: One Beautiful Snow in Korea, by Lidya Andari (part 2)


Cerita ini adalah kelanjutan dari cerita yang satu ini.

Kaget gak sih kalau begitu kalian turun tangga, tiba-tiba ‘dihadang’ oleh seseorang yang kemudian menyembah kalian?

Lidya Eonni pernah mengalaminya. Jadi suatu waktu, Lidya Eonni bertemu dengan seorang biksu Buddha dan biksu tersebut terpesona dengan Lidya Eonni. Katanya, penampilan Lidya Eonni dengan hijab dan rok panjang bikin ia seperti dewi. Hihi.

Tapi, Lidya Eonni juga pernah merasakan hal-hal yang tidak menyenangkan selama di Korea. Misalnya, karena ia sangat menjaga agar selalu mengenakan hijab dimanapun (di Korea, goshiwon atau kos-kosan, meski untuk perempuan, laki-laki boleh bebas masuk), rambutnya pernah rusak. Salutnya nih, Lidya Eonni memotong rambutnya sendiri demi menghindari fitnah (karena kalau di salon kan tentu akan dilihat laki-laki). Ckckck. *menitikkan air mata*

Lebih lanjut diceritakan, ini yang mesti jadi pelajaran banget buat kita sister. Menurut Lidya Eonni, suasana di Korea cenderung membuat diri malas beribadah. Maklum ya, Korea merupakan negara tak berTuhan. Yang dianggap Tuhan malah soju, yaitu minuman keras khas Korea. Hehe.

Tidak ada adzan, tidak ada teman yang bisa mengingatkan, tempat maksiat dimana-mana, bahkan mencari makanan halal pun susah. Dan yang paling menyedihkan, Lidya Eonni juga menyebutkan bahwa ada teman-teman Indonesia yang awalnya berhijab, begitu kecantol pria Korea malah melepas hijabnya dan ikut-ikutan budaya Korea :(

Pernah juga Lidya Eonni sholat di tempat umum, eh malah diteriaki “orang gila” dan bahkan diusir oleh satpam setempat. Sedemikian sulitnya menegakkan ibadah di negeri orang. Yang disini kita sholat bebas-bebas aja, malah seringnya males. Hayooooo..

Di tengah kekhawatiran akan berkurangnya iman, Lidya Eonni selalu mencari cara untuk mematuhi aturan Allah. Jaman teknologi begini, bisalah pasang app adzan di smartphone. Kalau khawatir sama makanan yang tidak halal ya masak sendiri. Alhamdulillah, when there is a will, there is a way..

Puncaknya, ia bertemu dengan organisasi muslimah Indonesia di Korea. Seminggu sekali mereka mengadakan pengajian melalui...Skype! Yup, kesibukan tidak memungkinkan mereka untuk sering bertemu, namun mereka masih mengusahakan untuk bertemu setidaknya sebulan sekali. Barulah ketika bertemu mereka mengadakan pengajian ‘beneran’ *sekarang giliran mata Lidya Eonni yang berkaca-kaca menceritakan betapa eratnya persahabatan muslimah Indonesia di Korea*

Kisah lain dari perempuan yang selalu terlihat ceria ini adalah tentang betapa hidup di Korea menjadikan ia bersyukur menjadi muslimah. Banyak orang Korea disekitarnya yang bertanya apakah ia selalu terlihat bahagia karena selalu sholat. Intinya adalah Lidya Eonni tiba pada suatu sikap, bahwa semestinya dengan beragama hidup kita menjadi lebih terarah, teratur, dan berarti bagi sesama.

Ada cerita ketika salah satu temannya yang anak pengusaha baja curhat tentang hidupnya. Well, kaya raya tidak menjamin kebahagiaan, terutama jika jiwa sudah terlanjur kosong. Maka dari itu, Lidya Eonni merasa sangat bahagia menjadi seorang muslimah. Apalagi lahir dan besar di Indonesia memudahkan kita menjalankan praktik agama Islam. Bisa mendengarkan adzan yang merdu, bisa sholat berjamaah dengan mudah, pun makanan halal ada dimana-mana.

Jadi sister, nikmat Allah yang mana lagi yang kita dustakan?

Semoga cerita Lidya Eonni mampu menggugah kita untuk makin rajin beribadah, amin :’)





0 komentar:

Post a Comment

© I'm Fireworks!, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena