I'm Fireworks!

World Through my Words

Sunday, October 15, 2017

Whatever Will be, Will be

Touching him was like realizing all you ever wanted was right there in front of you.

Pernahkah kamu mencintai seseorang, hingga rasanya sekian tahun berlalu dan rasa kepadanya tidak berubah sedikitpun? Atau sesederhana, seperti apapun dia dan kamu tetap melihatnya dengan pandangan yang sama.

Waktu berdetak, ada bentangan jarak. Berjalan ke depan, mencoba untuk menjalani kenyataan. Melepaskan yang kala itu sepertinya bukan jadi takdir, susah payah mengusir segala rindu yang hadir. Setelah akhirnya mampu melewati semuanya, justru semesta memberikan tanda bahwa dialah orangnya.

Dia yang sudah direlakan untuk bahagia, dia yang sudah melangkah entah ke mana. Datang lagi, dengan jawaban yang ditunggu sekian lama. Jawaban yang tak kunjung didapatkan sebelumnya, yang disimpulkan menjadi "tidak" pada akhirnya.

Namun sekarang, ternyata semuanya semakin jelas di depan mata. Dia memberikan jawaban seperti yang diinginkan, meski terlambat sebenarnya. Tapi bukankah, ini bukan soal berapa lama yang dihabiskan untuk menunggu? Tapi bagaimana hasilnya. Benarkah begitu?

Ketika jatuh cinta, seolah seluruh bunga bermekaran pada hari yang sama. Saat kehilangan, satu demi satu kuntumnya berguguran, meninggalkan gersang dan luka.  Justru di hari ini hujan datang lagi untuk menumbuhkan kembali yang telah mati, badai bimbang mengiringinya.

Takdir tidak ada yang tahu, bahkan esok hari selalu jadi misteri. Rasa khawatir berlebihan memang hanya akan membebani diri sendiri. Berserah pada Tuhan dan membiarkan Ia yang memberikan hasil akhir yang terbaik adalah keputusan paling tepat saat ini.

Apapun yang akan terjadi, terjadilah. Jika memang garisnya, akan dipermudah meski sesulit apapun bayangan di benak. Yang keras akan melunak. Jalan yang pahit akan berangsur enak. Percaya dan percaya. Tuhan paling tahu segalanya.

When I still see it all in my head, Loving him was red 
Read More

Tuesday, March 21, 2017

[Fiction] Firasat

Kamu menerawang, memandangi sebuah foto yang mulai usang. Potret kelulusan SMA, dengan seragam dicoret-coret dan senyum bahagia. Sebagai seseorang yang mengenalmu bertahun-tahun tentu aku ingin tahu. Bagaimana sebuah kepingan kenangan yang telah terlewati belasan tahun lalu, masih tersimpan rapi?

Duduk di sisimu, aku mulai bertanya. Apakah ada cerita istimewa di balik selembar potret yang sudah terlipat di berbagai sudutnya. Kamu menoleh, dan memulainya dengan suara lirih. Ini bukan sekadar memori sederhana, tapi sebuah jawaban kenapa selalu ada lubang di hatimu yang tak pernah bisa kututup dengan apapun.

"Aku tidak akan pernah percaya dengan yang namanya firasat, jika bukan karena kejadian hari itu. Satu bulan sebelum ujian akhir dimulai, dan tak terbayangkan jika dia tidak mengajakku pulang."

Tanpa ada keinginan untuk menyela, aku membiarkanmu membuka sebuah buku berdebu yang sudah tertutup lama, mengingat masa lalu yang ingin sekali kamu lupa.

"Kamu kelas satu kan dulu pas aku kelas tiga? Mungkin kamu masih ingat, dulu ada lomba antar sekolah dan suporter SMU lain membawa rokok dan miras ke kantin kita. Teman-teman mengajakku untuk ikut menikmatinya. Tentu saja jawabannya adalah iya, namun baru melangkahkan kaki ke halaman belakang, Hana datang ke kelas dan dia mengajakku pulang...Dia bilang kalau butuh tebengan karena tidak membawa motor sendiri."

Jantungku berdegup kencang, jadi ikut menggali ingatan dan melempar diriku ke hari itu.

"Lalu kami pulang, kemudian aku terpikir untuk kembali ke sekolah. Namun entah kenapa saat sampai di rumahnya, rasanya belum ingin beranjak. Memandangi wajahnya yang masih segar meski terik siang mengalihkan semua rencanaku untuk bergabung dengan teman-teman. Akhirnya hingga sore hari, kami menghabiskan waktu di teras rumahnya, memainkan gitar dan bernyanyi seperti biasanya."

Kisah terus berlanjut, ternyata teman-temanmu tak lulus ujian sekolah karena ketahuan melakukan tindakan di luar batas kala itu. Saat pengumuman kelulusan, Hana datang dan memandangmu dengan mata berbinar serta senyum menawan. Dia tidak pernah menyangka bahwa ajakannya untuk pulang bersama, ternyata menyelamatkan kekasihnya dari tragedi buruk.

"Sekolahku selesai, berarti kami akan berpisah. Usai merayakan kelulusan dengan teman seangkatan, rupanya dia masih menungguku di taman sekolah. Firasatnya membuatku sadar bahwa cinta kami lebih dari sekadar cerita masa SMU. Sejauh apapun nanti pergi untuk kuliah, kehilangannya bukan pilihan. Dan ya, kami menjalani hubungan jarak jauh yang semakin membawa banyak alasan kenapa aku dan dia, adalah simpul mati yang ditakdirkan tak terurai lagi."

Dengan kondisi serba sulit, kalian bertahan diterpa banyak sekali ombak besar. Hingga Hana sakit dan koma, bermodalkan sisa-sisa rupiah yang kamu punya, jarak kotamu dan tempatnya dirawat seolah tak jadi masalah. Seperti nyawa sudah berada di ujung kuku, ketika akhirnya ia membuka mata, ada rasa lega tak terkira akhirnya merebak di hatimu.

Bagian demi bagian terus mengalir, aku kini mengerti kenapa Hana bukan hanya perempuan di masa lalumu. Dia adalah firasat penyelamatmu, kamu adalah semangat di alam bawah sadarnya. Masih ada satu fotomu bersamanya tersimpan di selipan buku, sebuah kenangan yang kamu tahu tak bisa terulang lagi di masa depan.

Memelukmu dengan hangat, adalah satu-satunya cara membuatmu tahu bahwa cintaku juga setulus itu. Dia adalah cuilan yang hilang dari hatimu, seumur hidup mungkin tak tertutup. Melepasnya pergi selamanya, adalah pukulan terhebat yang menghantam seorang Prama.

Bagimu, Hana tak terganti. Bagiku, hal tersebut membuatku sadar bahwa kamu bisa mencintai hingga sedalam samudera.

Setiap minggu, buket bunga di makam Hana selalu diganti dengan yang baru. Aku tahu, itu kamu. Firasatnya membawamu punya kehidupan lebih baik di hari ini. Cintamu, membawa kedamaian untuknya hingga akhir waktu.

Inspired by Firasat-Dee
Read More

Minutes to Midnight

Tinggal di lantai dua, lengkap dengan balkon plus suhu udara dingin membuat malam ini terasa berbeda. Dua hari penuh nggak keluar kosan sama sekali karena demam ditambah sakit kepala (udah macem iklan obat aja), menghirup segarnya oksigen yang tidak tercampur asap sepertinya jadi ide bagus. Setengah dua belas malam, saya beranjak menuju beranda lantai dua.

Hampir tidak ada kendaraan lewat di jalan depan, hening dan tenang. Ditemani kemerlip lampu dari menara apartemen depan, iPod di genggaman serta secangkir teh tarik, saya menarik kursi dan duduk di balkon. Mensyukuri hidup ada banyak cara dan salah satunya memang sesederhana ini.

Bali selalu menjadi rumah kedua yang nyaman untuk dikunjungi kapan saja. Malam ini, saya mendapatkan suasana itu, hanya beberapa meter dari kamar. Tepat saat lagu Everglow mengalun dari iPod ke telinga, ikut bernyanyi dan tersenyum selalu berhasil membawa kebahagiaan tersendiri.

Betapa hidup penuh dengan warna dan rasa, mengalir bagai air setiap harinya. Pahit manis, hitam putih, menyatu dalam nadi hingga kita mati. Di balik setiap beban ataupun pikiran, ada hikmah dan pelajaran untuk membuat diri jadi lebih dewasa, dari waktu ke waktu. Menjalani sisa usia  sepenuh hati, sepertinya menjadi pilihan paling tepat.

Ketika jenuh dan problema datang bersamaan, pernah terpikir untuk lari kemudian memulai sesuatu yang baru. Lalu apakah menutup paksa sebuah cerita lantas ke depannya semua baik-baik saja? Jawabannya adalah tidak. Selesaikan, biarkan jadi masa lalu, bukankah seharusnya begitu?

My friend said: masa lo gabisa sih melewatin masalah? lo jauh lebih hebat kali daripada beban hidup.

And it was true, seberat apapun itu akan hadir sebuah jawaban untuk mengakhiri semuanya jika kita mau berusaha. Someone also said: apa yang terjadi hari ini, biarkan tertinggal, tak perlu dibawa hingga esoknya. Yes, move on!
Masih sembari mendengarkan lagu-lagu terputar secara acak, perlahan senyum semakin mengembang. Ada banyak percakapan di Whatsapp, dengan teman dan keluarga. Isinya bercandaan, curhat, nyinyirin Ayu Tingting (((penting ya))) yang terakhir tentu saja bertukar cerita. Terlepas dari pekerjaan, ternyata saya masih punya kehidupan.

Cangkir sudah kosong, baterai pemutar musik sudah hampir habis dan beberapa menit lagi hari akan berganti. Saya beranjak, masuk ke dalam dan menutup pintu. Mengawali Selasa dengan tenang dan nyaman, sepertinya minggu ini bersahabat sekali.

21/3/2017
Read More

Monday, March 6, 2017

[Startup Series] Jadi Ibu Merupakan Pelajaran Seumur Hidup

Beberapa tahun, saya di posisi staf yang notabene tanggungjawabnya berkutat pada tugas diri sendiri saja. Selesai ya pulang dan apapun yang terjadi di kantor saya tidak perlu tahu. Pokoknya waktunya gajian ya nerima transferan, ada perubahan aturan ya diikuti. Hingga tanpa direncanakan sebelumnya, mendapat amanah untuk menjalankan pekerjaan yang lebih besar daripada sebelumnya.

Menjadi team leader, langsung di bawah CEO yang artinya semua staf yang pekerjaannya berkorelasi dengan konten (sempat di Boombastis, lalu ke Selebupdate, lalu ke Travelingyuk) adalah tanggungjawab saya. Dari sinilah, perjalanan sebagai seorang ibu dimulai. Ternyata, memimpin dan membuat sistem saja tidak cukup. Butuh lebih dari sekadar mengkoordinasi dan manajemen.

Tentu saja lamaa sekali saya masih bodoh dan banyak salahnya. Marah dan emosi adalah teman akrab sehari-hari, sampai pada titik capek sendiri. Begini amat sih cari duit, itu yang ada di dalam pikiran. Akhirnya membangun tembok, malas-malasan berkomunikasi. Jika ada kondisi yang tidak sehat, mulanya memang dari diri sendiri.

Bertambah umur itu pasti, tapi menjadi dewasa adalah pilihan. Perlahan saya mulai melihat apa yang bisa dilakukan agar kondisi membaik dan meminimalisir hal-hal yang tidak enak. Pertama, anak-anak di kantor bukan musuh saya. Kami keluarga dan bekerjasama untuk membuat apa yang dikerjakan ini berhasil. Jika terkadang merasa sebal satu sama lain itu hal yang biasa. Namanya manusia, berbeda-beda satu dengan yang lainnya.

Kedua, belajar untuk lebih rileks dan profesional. Santai saja karena masalah tentu akan datang silih berganti, selama bisa dihadapi dan diselesaikan maka jika sudah ya sudah. Profesional, tidak perlu sungkan untuk berbicara dan diskusi. Jika memang ada yang butuh ditegur, sampaikan saja dengan bahasa yang santun. 

Ketiga, melihat anak-anak sebagai manusia seutuhnya. Sama seperti saya yang punya hidup di luar kantor, mereka juga kan? Bisa jadi di rumah ada beberapa masalah atau kemungkinan lainnya yang membuat sikap mereka berbeda atau pekerjaannya tidak sesuai harapan. Mesin saja bisa diperbaiki, apalagi manusia yang bisa berkomunikasi? Tidak perlu khawatir.

Mengayomi mereka, mengerti dan mengenal satu persatu dari individu ini. Watak dan sifatnya bermacam-macam, rupa-rupa juga problematikanya. Berusaha untuk memahami dan tidak terjebak dalam kondisi tidak mengenakkan, adalah pelajaran seumur hidup yang ternyata menyenangkan. Kondisi jadi lebih kondusif, mulai saling memahami posisi dan juga situasi.

Hari-hari jadi lebih terasa istimewa, hubungan antar personal juga membaik. Di kantor, mbak Tita adalah Ibu yang mendengarkan aneka cerita mereka, dan kesulitan yang mendera. Managing tim agar semuanya berjalan sebagaimana mestinya, agar apa yang yang direncanakan tercapai. Di luar, mbak Tita adalah manusia yang bisa diajak nonton atau ngobrol ringan, bahkan mungkin berteman. Ternyata mbak Tita juga suka jajan lalapan geprek yang pedas dan jajan cilok. No longer become stranger each others.

Sampai hari ini, belajar menjadi Ibu bagi anak-anak kantor tetap saya jalani. Kadang masih merasa lelah atau putus asa, tapi naik turun dalam dunia kerja itu biasa. Tidak apa-apa, justru di situ tantangannya bukan? Anak-anak belajar untuk mengerti saya, dan begitu juga sebaliknya. Dunia ini terlalu indah untuk dihabiskan dengan menggerutu dan tidak bahagia.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar jadi lebih baik. Jika hari ini saya masih ada kekurangan, semoga besok sudah bisa diselesaikan. Begitu terus, keep moving! :)

Regards
Titasya
Read More

Saturday, March 4, 2017

[Startup Series] Satu Hal yang Tak Bisa Dicuri

Nothing new under the sun. Semuanya merupakan recycle atau amati tiru dan modifikasi dari yang sudah ada. Wait, bagaimana jika hanya sampai di fase amati dan tiru? Bisa jadi, mendekati penjiplakan bukan? Hampir tidak ada juga 1 bisnis yang berjalan sendiri tanpa pesaing. Whatever you named it, rata-rata ada kompetitornya meski dalam skala jauh lebih kecil.

Masalah contek mencontek ini, udah biasa dan sulit untuk dihindari. Ya bagaimana, ketika kita membangun satu hal yang potensial dan ternyata disukai banyak orang, kita seperti menyalakan tanda bagi keramaian untuk melihat. Ketika dianalisa, oh bisa dimonetize nih, maka voila! Bisa jadi esok harinya, sudah ada pihak lain yang membuat sesuatu yang sama persis. Yeah, welcome to real life.

Lalu bagaimana cara mengatasinya? Well, kita tidak bisa mengendalikan hal tersebut. Tapi kita bisa menjaga internal sendiri, agar jangan sampai mati ketika ada kompetitor datang dengan 'barang jualan' yang sama atau bahkan dengan 'amunisi' yang lebih besar. Di sinilah letak pentingnya diferensiasi.

Kami (CEO, saya dan team holding company di Jakarta) mendiskusikan hal ini beberapa kali. Jualan nasi goreng dan menambahkan telur ceplok di atasnya, itu bukan diferensiasi. Penjual lain masih bisa mengejar menyuguhkan keistimewaan yang sama, tanpa menunggu waktu lama. Ini sempat jadi pe er bagi saya dan CEO, karena jawabannya akan menjadi salah satu kekuatan terbesar travelingyuk.com nanti ke depannya.
Orang lain bisa esok hari membuat website serupa dengan travelingyuk.com , kalau perlu membajak semua team yang ada di kantor kami. Namun ada satu yang tidak bisa dicuri (jika membahas soal koten), yaitu core idea yang ada di otak saya sebagai Chief Content Officer di sana. Ketika hari ini saya dan team menyajikan artikel bertema umroh backpacker, jeda beberapa jam mungkin saja sudah muncul di website lain. Tapi konsep menjiplak total tanpa modifikasi, ujungnya akan seperti itu terus. Tertinggal satu langkah di belakang, mengekor apa yang kami lakukan setiap harinya.

Kreativitas itu perlu, dan penting dalam aspek apapun. Ada banyak website media online di dunia ini, tidak sedikit yang mirip-mirip sehingga merasa membaca hal yang sama di beberapa tempat. Tapi toh, mereka yang mau berkreasi dan meluangkan waktu untuk berpikir membuat inovasi, bertahan di tengah peperangan persaingan yang ketat.

Jadi, jangan takut dengan persaingan dunia bisnis yang kejam. Friend is friend, but money is money my friend. Kita tentu pernah membaca beberapa orang yang awalnya adalah sahabat bahkan membangun bisnis bersama, pecah kongsi dan bisa jadi tak lagi mau kenal satu sama lain hingga bertahun-tahun. Teman saja bisa seperti itu, apalagi orang lain yang bahkan kita tidak kenal?

Saya tentu terkadang masih pesimis. Waduuuhh si ituh tuh budget bulanannya setinggi langit. Si ituh yang satunya lagi, teamnya ada ratusan. Et cetera, et cetera. But hey, terus kenapa? Tuhan saja tidak membatasi kok, siapa saja boleh berbisnis dan membangun sesuatu. Percaya pada diri sendiri itu perlu, dan yakin juga penting. Sekali lagi, usaha tidak akan mengkhianati kita. Apa yang ada di dalam pikiranmu, itulah yang menjadi kekuatanmu.

Bukan masalah jika kompetisi begitu berat di luar sana. Lakukan semuanya dengan cinta dan ketulusan. Tidak perlu berbuat curang atau hal-hal buruk lainnya. Berjalan yang lurus, melompat lebih tinggi dan temukan diferensiasi. Sampai sekarang, Indomie masih laku kok di mana-mana meski Mie Sedaap sudah menggerogoti pangsa pasarnya meski belum banyak. Karena apa? Indomie tidak berhenti berinovasi, siapa yang sudah icip-icip varian-varian terbarunya? #raisemyownhand :))

Team di kantor bisa rontok satu persatu, masalah datang silih berganti sudah pasti. Tapi jika otak terus mengeluarkan inovasi yang menarik, maka mereka yang amati dan tiru, tak akan bisa mengejarnya. Be positive, go ahead!


Regards
Titasya
Read More

Sunday, February 26, 2017

[Startup Series] Travelingyuk Then and Now

Tahun 2016 menjadi kejutan besar bagi travelingyuk.com , singkatnya: kami kini menjalankan bisnis di bawah holding company bersama beberapa startup lain yang sudah besar terlebih dahulu. Sebuah mimpi yang bahkan kami belum mulai meraihnya, sudah terwujud. Alhamdulilah, Tuhan selalu baik dan mengatur semuanya di waktu yang terbaik pula. Selama hampir satu tahun ini, kami (saya dan founder travelingyuk) mendapatkan banyak banget ilmu seputar bisnis dan start-up. Agar tak terhapus begitu saja, saya akan menuliskannya menjadi blogpost series.

Post yang pertama, saya bagi menjadi dua bagian yaitu: perjalanan travelingyuk hingga pertengahan 2016 dan bergabung dengan holding company.

Travelingyuk: Hadir dari Ide Sederhana

Bekerja di media online selama beberapa waktu nggak lantas membuat saya bisa berpikir besar. Bisa dibilang, isi otak ini monoton gitu-gitu aja. Tapi satu yang saya yakini, dunia maya terlalu luas untuk hanya 'dicangkul' di tema itu-itu saja. Ada banyak lahan yang sebenarnya potensial, tapi belum 'diambil' oleh media-media yang sudah terkenal lebih dulu.

Salah satunya, traveling. Sebenarnya, both of us passionnya biasa aja soal liburan. Tapi kala itu, ada 1 penulis yang juga temen saya yaitu Alfry yang kerap mengisi waktu dengan menjelajah destinasi wisata baru. Kenapa tidak? Lalu tanpa pikir panjang, setelah pilih-pilih nama, di tengah saya opname (lagi) di RS karena kena DB, www.travelingyuk.com hadir.

Sederhana banget, namanya travelingyuk dan tujuannya memang membuat orang ingin pergi liburan dan memberikan referensi. Nggak SEO friendly, nggak 1 kata, dan banyak lagi. Kini, fenomena "yuk" ini menginspirasi banyak orang untuk membuat website atau akun media sosial bertema pariwisata dan menyelipkan "yuk" di namanya. Siapa sangka juga, kini liburan lagi trending luar biasa di Indonesia? :)

Belasan bulan berlayar di dunia maya, travelingyuk sempat di posisi naik turun. Sejujurnya, lebih banyak turun karena kami nggak fokus di sana. Ada dua website lain yang sudah menyita perhatian dan kala itu lebih menjanjikan. Beberapa kali, travelingyuk hibernasi alias tidak menerbitkan konten sama sekali. Even likers di Facebooknya cuma 600an. Kasihan banget deh pokoknya...

Sampai pada Februari 2016, kami bisa generate likers dengan begitu cepat dan organik di Facebook Fanspage. Kejutan karena tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Berawal dari sana, traffic website juga ikut meningkat. Website ini seperti permata yang menunjukkan kilaunya, akhirnya kami memutuskan untuk menyisihkan waktu dan menggarapnya dengan lebih serius.

Trust me it feels like...start from zero. Totally zero, selama ini travelingyuk udah kayak anak layangan, dilepas gitu aja. Saya jadi belajar lagi konten seputar wisata, memutar otak bersama tim penulis dan media sosialnya untuk menghadirkan kualitas paripurna. Hingga seratus ribu sekian likers kemudian, kami mendapatkan email, dari seseorang yang tak pernah disangka.

Make it Bigger

Selama ini, dana untuk menjalankan tiga website di kantor adalah modal pribadi dari founder. Dengan berbagai keterbatasan, kami harus bekerja cerdas agar dana yang ada, bisa cukup untuk biaya perbulannya. Tapi kami mengerti bahwa uang tidak selalu penentu kesuksesan. Ada banyak faktor lain, pelan tapi pasti, membangun konsistensi dan diferensiasi di setiap website adalah usaha kami semua yang ada di kantor.

Begitu juga dengan travelingyuk, FYI tidak banyak dana yang disisihkan untuk mengisi konten dan merawat media sosialnya. Tidak sampai lima juta rupiah lebih tepatnya. Mungkin sekitar 2-3juta selama hampir dua tahun. Bahu membahu, semua tim membuatnya berjalan lebih cepat dari hari ke hari. Meski harus diakui bahwa money still talks. Ini pelajaran pentingnya, lakukan yang kamu bisa dan semaksimal mungkin. Kerja keras tidak akan pernah berkhianat.

Singkat cerita, kami diundang ke Jakarta untuk bertemu dengan investor. Satu poin yang membuat saya tak ragu untuk bekerjasama, karena ini adalah proses belajar. Kami tidak serta merta diberi uang lalu terserah elo deh puterin itu duit pokoknya nanti kalo laba elu kasih gua. Bukan seperti itu, kami semua berdiskusi panjang untuk mematangkan rencana ke depan.

Diskusinya juga tidak hanya satu dua kali, tapi terus menerus. Kami tidak dilepas begitu saja, tapi terus diperhatikan. Bagi mereka, membangun bisnis bukan untuk bertahan selama 5 atau 10 tahun. Namun tetapi selama mungkin dan terus berkembang! Bukan membakar uang atau bertaruh, melainkan menentukan langkah dengan tepat dan meminimalisir kegagalan.

Mereka rendah hati dan pendengar yang baik, berbagai hal terus dibenahi hingga jadi lebih baik dari hari ke hari. Saya jadi belajar lagi banyak hal, ada action plan dan Key Performance Indikator, tak lupa juga audit dan rapat kerja. Menarik sekaligus menantang ya?

Ya, kami belum mengajukan proposal ke investor atau venture capital manapun. Merekalah yang menemukan kami, di antara tumpukan startup lain yang tak kalah keren. Bagi saya, halaman baru travelingyuk ini merupakan proses saya belajar. Iseng-iseng saya menyebutnya: kuliah S2 di Universitas ***** dan sekarang sudah memasuki semester kedua.

Jika tidak ada halangan, tidak lama lagi perjalanan kami akan segera dimulai. Siap untuk menjelajah samudera lebih jauh lagi :). Dari sini, teman-teman bisa menaikkan rasa percaya diri. Awalnya, travelingyuk juga nothing. Sempet hidup mati, prosesnya juga nggak sebentar. Tapi jika kamu tau bahwa startup mu potensial dan tentu saja, bisa berkembang terus, dont lose hope. Di postingan selanjutnya, saya akan tulis proses dari awal bertemu pihak holding company sampai akhirnya travelingyuk siap untuk dijalankan dengan manajemen baru. Stay tune and thank you sudah baca ya...

Regards
Titasya
Read More

Saturday, January 14, 2017

[Contain Spoiler] Passengers: Cerita Tentang Bertahan

Note: Kalau belum nonton Passengers dan nggak mau kena spoiler tolong jangan dibaca ya postnya terimakasih :)

Akhir pekan kini jadi berwarna, kembali ke rutinitas nonton ke bioskop. Minggu lalu nonton Arrival dan kali ini, Passengers. Saya tipikal orang yang nggak baca preview or lihat trailer film dulu sebelum nonton. Lebih ke tebak-tebak manggis, let surprise around me during watching movie. Kalau nggak sampai 1 hari dan saya udah bikin blogpost tentang film yang baru selesai ditonton berarti memang mencuri hati banget!
Passengers bercerita tentang sebuah Perusahaan yang bikin bisnis memindahkan makhluk bumi ke planet lain. Perjalanannya memakan waktu 120 tahun, that's why penumpangnya dimasukkan ke dalam kapsul dan dibikin tidur selama perjalanan tersebut. Long story short, ada kerusakan yang membuat sistem di kapsul milik Jim Preston dan akhirnya cowok ganteng yang diperankan oleh Chris Pratt ini terbangun lebih cepat 90 tahun.



Panik luar biasa, Jim frustasi karena dia bakalan mati menua di dalam kapal. Saat melihat-lihat kapsul penumpang lainnya, dia melihat Aurora Lane yang cantik. Satu tahun penuh Jim menahan diri untuk nggak 'membangunkan' Aurora dari hibernasi buatan itu dan akhirnya ia goyah. Perempuan yang jadi penulis terkenal di Amerika itupun akhirnya ikut 'terjebak' hidup di kapal itu.

Dari sini, saya melihat banyak sisi menarik. Bagaimana paniknya Jim dan Aurora, mereka sampai 'gila' karena membayangkan akan mati sendiri di sana. Awalnya, Aurora nggak tahu bahwa Jim lah yang membuatnya berada di kondisi seperti sekarang. Mau tidak mau, dua penumpang ini belajar untuk menerima kenyataan. Bersenang-senang, mencoba menikmati hidup dan tentu saja, saling jatuh cinta.

Mengikuti perjalanan mereka hanya berdua ditemani robot bartender di kapal, mulai dari mengisi waktu hingga kencan. Dalam kehidupan nyata, kita pasti sering berada di situasi yang nggak diinginkan. Mau komplain terus? Tentu malah buang waktu dan tenaga. Mencoba menikmatinya, adalah solusi yang sederhana tapi bikin bahagia.

Ada banyak hal yang terjadi di luar kuasa kita. Seperti kapsul tidur yang rusak, atau jatuh cinta pada seseorang. Tapi kita bisa mengendalikan diri kita sendiri, seperti saat Aurora tahu bahwa Jimlah penyebab ia kini tak lagi dalam masa hibernasi.

Jim nggak memaksa Aurora untuk maafin dia, dan di situlah letak pengendalian diri manusia. Nggak memaksa orang lain untuk nurutin dia, atau setuju sama apa yang dia lakukan. Hal-hal kayak gini yang kita sering ngga sadar, melakukannya. Elo harus setuju sama gueee! Well, bukankah hak kita untuk memberi penjelasan dan hak mereka untuk menerimanya atau tidak?

Cerita bergulir, masalah di kapal semakin menjadi. Mau nggak mau, mereka harus bersatu agar tidak terjadi hal buruk. Masih dengan sakit hati yang tersisa, Aurora mau untuk mencari akar masalah tersebut bersama Jim. Hal yang berat dilakukan, tapi keadaan yang memaksa. Besar hati dan fokus pada mencari solusi, adalah moral of the story di bagian ini.

Memaafkan bukan perihal mudah, tapi move on tak pernah jadi langkah yang salah. Menghadapi kenyataan pahit, maju ke depan dan nggak menenggelamkan diri dalam kesedihan. Istilahnya, nasi sudah jadi bubur dan harus dimakan. Hambar, datar, tetap musti ditelan.

Tapi toh manusia adalah makhluk yang adaptif dan hatinya selembut kapas. Setelah melewati beberapa kesulitan, ia justru berjuang agar Jim tetap hidup. Saat montir ini terhempas di ruang hampa luar angkasa, Aurora melompat dan menyelamatkannya. Dengan sisa tenaga, ia menyeret Jim masuk ke ruang pengobatan dan berusaha agar pria yang menggores luka di hatinya itu tersadar dari koma.

Sejenak, jadi teringat tutur seorang teman. Carilah pasangan yang mau untuk 'saling' dengan kita. Saling cinta, saling mempertahankan, dan saling menggenggam. Semua tidak akan ada artinya, jika hanya satu orang yang saja yang berusaha, tapi lainnya tidak. Dua tokoh utama film Passengers ini membuktikan bahwa setelah melewati fase bermasalah, ada kesempatan untuk berubah.

Problema telah terlewati, sekarang ada kesempatan untuk salah satu kembali hibernasi. Berarti, yang lainnya akan kembali hidup sendiri, dalam sepi. Meninggalkan untuk kembali mencapai masa depan, ditinggalkan karena cinta berarti siap melepaskan. Tapi apa yang terjadi?

Tidak, tidak ada yang kembali melanjutkan tidur panjang. Rupanya, menerima realita dan mencintai apa yang dimiliki menjadi kekuatan besar. Hingga akhirnya keduanya tak bisa lagi melawan waktu dan menua, banyak kejutan yang dilakukan. Mulai dari membuat taman di dalam kapal, hingga merekam jejak mereka untuk diceritakan pada penumpang yang bangun tepat pada waktunya.

Terlepas dari film ini seperti Martian, Titanic, Gravity, Guardian of the Galaxy (kidding! :p) dan Interstellar diblender menjadi satu, benang merah ceritanya memang menarik. How to survive wherever we are, how to enjoying life however it is. I recommended this movie to watch, quite worth it!

You die, i die - Aurora

 


Read More

Thursday, January 5, 2017

Melihat Arsitektur Unik dan Wisata Budaya di Kampung Ahok

Siapa sih yang nggak tahu Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama? Hampir semuanya yang mengikuti perkembangan politik dalam negeri mengerti perihal Ahok. Ternyata pria yang saat ini sedang bertarung dalam Pilkada di DKI Jakarta tersebut memiliki kampung halaman yang keren yaitu Belitung. Sebuah kepulauan yang maju dalam sektor wisata pantai hingga budaya.

Salah satu yang jadi andalan terletak persis di mana dulunya rumah masa kecil Ahok berdiri. Sebuah saksi bisu tentang perjalanan Ahok dengan keluarganya. Masyarakat setempat menyebutnya dengan Kampung Ahok. Setelah masuk dalam gerbangnya, kamu akan melihat sebuah bangunan besar dan paling mencolok sebagai bangunan utama . Warnanya dindingnya cukup cerah dengan balkon yang luas dan megah. Tentu dulu rumah Ahok tidak seperti ini. 

Setidaknya ada sekitar tiga kali usaha renovasi hingga tampil dengan bentuk dan ukuran terkini dan terakhir dilakukan tahun 2009 silam. Karena Ahok bertugas di Jakarta, maka yang tinggal di rumah tersebut adalah ibunya yaitu Buniarti Ningsih. Masih di area yang sama, bangunan besar dan mewah bukanlah satu-satunya yang menyita perhatian. 

sumber
Memang nampak modern dan keren dengan halaman yang dilapisi dengan paving blok tertata rapi, namun jika dihadapkan pada rumah panggung tradisional dengan keindahan nuansa tradisionalnya, siapa yang bisa menahan untuk bisa datang ke tampat yang berlokasi di Wisata Kampung Ahok di Jalan KA Bujang No. 22, Kecamatan Guntung, Kabupaten Belitung Timur. 

Informasi selengkapnya tentang destinasi wisata rumah Ahok bisa kamu dapatkan di sini. Link : http://travelingyuk.com/rumah-ahok/23497/
Read More

Tuesday, October 18, 2016

Cinta Itu...

Untuk orang seperti saya, cinta seperti kemewahan tersendiri yang saya kadang ragu akan eksistensinya. Mengingat hubungan terbaik seorang Titasya Anugraheni akhir-akhir ini adalah dengan seperangkat kasur bantal dan boneka, wajar jika menjalin asmara belum terbesit lagi dalam pikiran. Tapi diam-diam, saya menemukan cinta di banyak orang. Terlihat di mata, terasa di perhatian, dan terwujud dalam perbuatan. Di dalam otak, saya merangkum bahwa cinta itu...

Ketika suami sahabat saya, Aisyah Fitasari sedang tugas di Wonogiri. Mereka berdua tinggal di Jakarta, dan mau mudik lebaran. Pas banget hari tugas tersebut dekat dengan cuti bersama. Tapi Taqim tidak langsung pulang ke Pacitan (yang jaraknya cuma sejam dari Wonogiri!). Dia justru balik lagi ke Jakarta, menjemput sang istri. Kita tetap mudik bareng, aku temenin kamu menaklukkan arus pulang kampung, he said. Then they comeback home together, two days trip Jakarta-Pacitan. I call it, love :)
Saat pagi hari saya ke rumah teman, bertemu dengan Mbak Nie. Perempuan berhijab cantik ini ternyata mau ke Indomaret. Sayapun bertanya, mbak mau beli apa? Ia menjawab mau beli kopi untuk calon suaminya. "Didit itu nggak bisa minum kopi yang blablabla, dia cocoknya minum kopi merek ini," tuturnya. Iya, itu cinta :)
A photo posted by Nie (@just.nie) on

Saya dan Ani sudah berteman selama belasan tahun. Kondangan bisa dibilang quality time kami di masa kini. Ia biasanya meluangkan waktu untuk ngobrol dan ngafe dulu bareng sama saya setelah datang ke resepsi pernikahan. Padahal dia sudah punya dua anak dan semuanya balita. Tapi suaminya memberikan waktu dan kebebasan, gantian di rumah dan menjaga dua anak kecil itu. Ah, cinta memang penuh pengertian :")
A photo posted by Anydha Natassya (@anydha) on

Dua orang ini, dulu pas masih pacaran hobinya berantem trus baikan trus berantem lagi. Lucu-lucuan gitu kalau ngambek, trus abis itu ketawa-ketawa lagi. Dasar! Sekarang mereka long distance marriage. Jakarta-Pacitan bukan jarak yang dekat, tapi toh Jacob mengusahakan pulang tiap ada kesempatan. Kadang naik pesawat, sering juga pakai kereta. Road trip juga kadang-kadang. Demi bertemu Mita, dan menyenangkan istrinya itu agar tetap bahagia. Kamu kira libur dua hari dan dipakai perjalanan itu tidak melelahkan? Tapi namanya juga cinta, macet totalpun diterjang! ;)

Masih banyak cerita cinta lain yang bikin hati saya hangat. Karena ternyata, berjuang dan diperjuangkan itu bukan tentang kata-kata tapi lebih dari itu. Bagaimana kamu menjadi prioritas seseorang dan kamu juga memprioritaskan dia. Bukan hanya sekadar ucapan tapi juga tindakan. Love it's not a words to spelled, it's an act and proving.

Don't forget to fall in love, and loving as much as you can be <3 <3 <3
Read More

Wednesday, October 5, 2016

Quarter After One

"Kamu salah satu perempuan tangguh dan tahan banting yang pernah aku kenal."

Ia mengatakannya kepadaku beberapa kali, tanpa ada maksud memuji. Hanya mengungkapkan isi hati, dan rasa kagumnya saja. Namun perempuan yang menerima predikat itu, justru menangis sesenggukan tak kunjung reda, beberapa hari setelahnya.

"Aku capek, wajahku banyak wrinklenya. I don't want to run it anymore," - aku, dengan air mata berderai mengucur tak henti-henti.

Tanpa berkata, ia menggenggam tanganku dan menghapus bulir-bulir air mata yang membasahi pipi penuh jerawat ini. Berusaha menenangkanku, ia mengajak makan di warung ayam penyet favorit kami.

"Kalau kamu sudah tidak ingin, kamu bisa berhenti. Kamu masih punya pilihan," tuturnya sambil sesekali menyeka air mata yang entah kenapa tak berhenti mengalir setelah beberapa lama.

Aku masih terisak, tak tau lagi harus berkata apa. Otakku sudah keruh, butuh waktu untuk bisa kembali berpikir jernih seperti sedia kala. Aku hanya bisa menangis dan menangis, low point.

Hingga akhirnya aku pulang dan pagi harinya, menyadari satu hal. Di jam-jam orang sedang terlelap tidur, dia ada untuk memegangku agar tak jatuh di jurang kesedihan paling dalam. Dia berusaha memberikan opini dan solusi, dan yang terpenting adalah jemarinya menyapu air mataku hingga berkali-kali. Meski aku di keadaan seburuk itu, dia tak mengubah pandangannya mengenai aku yang tangguh dan tahan banting.

Ternyata menurutnya, aku sedang lelah dan berada di titik batas tertinggi. Sehingga semuanya meledak bersamaan, memporak-porandakan duniaku pada hari itu. Yang paling membuatku tak menyangka adalah, dia memaksaku makan karena tau berjam-jam sebelumnya aku tak mendapat asupan apapun.

Terimakasih, sudah menghapus air mata di tengah malam yang dingin. Melihatku dari balik gerbang kosan sampai aku tak terlihat dari pandangan. Memastikan aku tidur dan istirahat, terlepas dari penat. Jemari dan pandangan mata teduh itu, adalah alasan kenapa aku masih bisa tersenyum, sampai hari ini.
Read More

© I'm Fireworks!, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena